<!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0in;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
p
{mso-margin-top-alt:auto;
margin-right:0in;
mso-margin-bottom-alt:auto;
margin-left:0in;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
{size:8.5in 11.0in;
margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
mso-header-margin:.5in;
mso-footer-margin:.5in;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>
Info Sehat 911
DietSehat911’s Blogspot
Situs Herbalife
Herbalife Products
DietSehat911’s Home Page
Ibarat menu makanan di restoran,
semuanya ada. Begitulah diet untuk menurunkan berat badan. Beragam jenis diet
ditawarkan, tapi yang mana yang pas dan benar untuk tubuh, harus
dipertimbangkan. Dengan diet yang benar, berat badan jadi seimbang, tubuh pun
sehat.
Perempuan sering salah kaprah mengartikan diet. Banyak yang beranggapan, cara
ampuh untuk menurunkan berat badan adalah lewat diet yang diartikan sebagai
"puasa" atau mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi. Asumsinya,
dengan mengurangi jumlah asupan makanan sebanyak mungkin, akan mempercepat
penurunan berat badan menuju berat yang diinginkan.
Dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GK menjelaskan, pengertian diet tidaklah
sesederhana itu. "Diet sebenarnya mempunyai arti kombinasi makanan dan
minuman di dalam hidangan makan yang dikonsumsi sehari-hari. Jadi, mengatur
makan dengan pola yang sehat," papar spesialis gizi klinik dari RS Mitra
Keluarga Kemayoran Jakarta.
Ada begitu banyak metoda berdiet untuk menurunkan berat badan yang tersedia. Dari
the Atkins Diet (diet rendah karbohidrat), the Cabbage Soup Diet, the
Grapefruit Diet, the South Beach Diet, the Balance Diet, dan lain-lain. Dari
sekian jenis diet, Lucia menilai, yang terbukti terbaik adalah balance diet
atau diet gizi seimbang. "Diet seimbang memberikan gizi seimbang yang
diperlukan tubuh dan memenuhi kebutuhan metabolisme normal."
Diet yang benar, lanjut Luciana, adalah tetap mengonsumsi makanan dengan
komposisi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah seimbang. "Tentu saja dengan
total kalori yang lebih rendah dari yang biasa dikonsumsi, sehingga tubuh akan
menggunakan simpanan energi tubuh, yaitu lemak tubuh, baik yang berlokasi di
bawah kulit maupun yang berada di dalam tubuh (lemak viseral). Dengan hilangnya massa lemak tubuh, maka akan
terjadi penurunan berat badan," terang dokter yang juga mengajar di
FKUI-RSCM ini.
ANALISIS ASUPAN
Luciana mengingatkan, diet untuk menurunkan berat badan dengan mengurangi
asupan karbohidrat atau lemak tidak begitu saja dapat dilakukan. "Mengurangi
salah satu makronutrien (karbohidrat atau lemak, misalnya) harus disesuaikan
dengan asupan sehari-hari," sarannya.
Luciana mencontohkan, mengurangi asupan lemak pada orang yang konsumsi lemaknya
sehari-hari tinggi karena hobi makan kerupuk dan cemilan goreng, pasti hasilnya
bagus, berat badan bisa turun. "Tapi, pada orang yang sama, jika
karbohidratnya yang dikurangi, maka dietnya menjadi tidak seimbang. Berat badan
juga belum tentu turun, tergantung kalori total yang dikonsumsi atau dikurangi.
Demikian juga sebaliknya, jika riwayat asupan sehari-hari konsumsi karbohidrat
yang tinggi, untuk mengurangi berat badan ya harus mengurangi asupan
karbohidratnya."
Yang harus diketahui, menerapkan metode diet yang salah dapat mengakibatkan
target menghilangkan massa lemak tubuh tidak tercapai. "Ini karena
penurunan berat badan bukan diakibatkan hilangnya massa lemak, melainkan cairan
tubuh atau massa otot."
Memilih jenis diet juga harus disesuaikan dengan keadaan tubuh. Misalnya, jenis
diet yang menganjurkan konsumsi tinggi protein kurang menguntungkan bagi orang
tua, karena fungsi ginjal orang tua biasanya sudah mulai menurun. "Ditambah
lagi jika ada gangguan ginjal yang menyertai." Contoh lain, diet sangat
rendah kalori justru akan mengganggu aktivitas fisik orang yang bekerja, karena
dengan konsumsi sangat rendah kalori, kebutuhan tubuh tidak akan tercukupi. "Akibatnya,
tubuh jadi kurang segar dan malah tidak bisa berkonsentrasi."
Idealnya, lanjut Luciana, jika ingin menurunkan berat badan dengan mengatur
pola makan, harus dilakukan analisis asupan dulu. Dengan analisis asupan,
makanan yang dikonsumsi sehari-hari dihitung. Dari penilaian tersebut akan
tampak kalori dan komposisi makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Baru kemudian
diatur dengan pedoman kebiasaan makan sehari-hari.
Mitos-mitos Diet
1. Tidak makan malam
Menghindari makan malam untuk menurunkan berat badan, adalah mitos yang kurang
tepat. Berat badan dipengaruhi oleh kalori total yang diasup dikurangi kalori
yang dikeluarkan dalam sehari (berat badan = kalori total yang diasup - kalori
yang dikeluarkan). Jika makan malam dihilangkan, kemudian menggantinya dengan
makanan kecil untuk menahan lapar, dan makanan kecil yang dimakan untuk
mengganti makan malam tadi mengandung kalori tinggi, maka berat badan tetap
tidak akan turun. Menghilangkan makan malam juga akan berakibat munculnya
keluhan tubuh tidak nyaman, lapar, atau bahkan gangguan lambung (sakit mag).
Jika makan malam diganti dengan mengudap buah, menurut Luciana boleh-boleh
saja, dengan catatan pada malam hari tidak melakukan aktivitas apa-apa. Prinsipnya,
makan adalah menyuplai tubuh untuk metabolisme tubuh, mengganti sel yang rusak,
aktivitas fisik, dan lainnya. "Kalau tidak ada suplai, ya tidak akan bisa
beraktivitas karena kelaparan, yang akan dikompensasi tubuh dengan membentuk
gula dari cadangan tubuh sendiri. Dampaknya, metabolisme terganggu, dan akan
timbul keluhan tidak enak badan, bahkan bisa timbul sakit mag."
2. Tidak sarapan pagi bagus untuk diet
Salah. Tanpa sarapan, gula darah akan bisa turun. Kadar gula yang rendah
akibatnya konsentrasi terganggu, lemas, mudah marah dan sebagainya. Sehingga
bagi orang yang bekerja jadi tidak efektif. Biasanya, dengan tidak sarapan rasa
lapar diatasi dengan makanan kecil, yang seringkali karena bentuknya kering dan
ringan, ternyata kalorinya banyak. Akibatnya, tujuan malah tidak tercapai juga,
BB bisa-bisa naik. Kecenderungan lain adalah, karena pagi tidak sarapan,
sehingga siang hari kelaparan dan makan jadi banyak. Jadinya tidak efektif
juga. Metabolisme tubuh yang normal tidak bisa menerima pola makan yang tidak
teratur.
3. Minum air putih dan air es akan membuat tubuh melar
Ini juga mitos yang salah kaprah. Air putih tidak mengandung kalori, jadi tidak
akan menyebabkan gemuk. Air es memang akan membuat penyerapan makanan jadi
lebih baik, tetapi air putih sendiri tidak memberikan sumbangan kalori. Sehingga
seberapa banyak minum air putih tidak akan meningkatkan timbunan lemak. Pada
tubuh yang normal, konsumsi air yang sangat banyak akan dikeluarkan oleh tubuh
melalui kencing, sehingga kandungan air di tubuh tetap dalam bataas normal.
4. Air jeruk nipis cespleng menurunkan berat badan
Mitos yang juga tak benar. Malah, yang terjadi, biasanya kita meminum es jeruk
dengan ditambah gula banyak-banyak supaya manis, karena jeruknya sangat asam. Akibatnya,
lemak makin menumpuk. Boro-boro berat badan turun, yang terjadi malah bisa
sebaliknya.
BIASAKAN MENGHITUNG ASUPAN MAKANAN
Prinsip diet menurunkan berat badan adalah bagaimana mengurangi asupan makanan
tanpa mengganggu aktivitas dan metabolisme tubuh. Caranya dengan mengurangi
total kalori asupan makan sehari-hari. Dengan kalori yang sudah ditentukan
untuk sehari, kemudian ditentukan untuk setiap kali makan.
"Idealnya, sih, dilakukan analisis asupan makan. Yaitu makanan yang
dimakan dihitung dan dievaluasi. Misalnya, pagi hari cuma minum susu, siang dan
malam makan lengkap, tapi kok, tubuh tetap gemuk? Kita cari salahnya dimana?
Ternyata, makan siangnya terlalu banyak. Nah, makan siang yang terlalu banyak
ini harus dikurangi. Penyebab makan siang yang terlalu banyak bisa karena makan
pagi terlalu sedikit, hanya minum susu, akibatnya akan lebih cepat lapar. Dalam
hal ini makan pagi bisa ditambah roti atau buah untuk mencegah kelaparan pad
siang hari."
Contoh lain, makan pagi, siang, dan makan malamnya bagus, makanan selingan
bagus, tapi cemilan di luar jadwal makan besar dan jadwal makan selingan
terlalu banyak. "Setelah dianalisis, yang dibuang cemilannya saja, pasti
BB turun. Kalau yang dibuang makan pagi atau makan malamnya, pengorbanan yang
dilakukan terlalu berat. Apalagi jika makan pagi atau makan malam yang
dihilangkan diganti dengan makanan kecil yang kalorinya tidak kecil, hasilnya
ya sama saja, tidak akan menurunkan BB."
LEMAK, BUKAN OTOT
Yang sering terjadi, seseorang akan senang jika berat badannya turun cepat,
padahal ia sendiri tidak tahu, yang turun sebetulnya apanya? "Airnya?
Lemaknya? Atau ototnya? Yang diharapkan, yang hilang adalah lemak, karena lemak
merupakan bagian tubuh yang tidak ikut metabolisme dan malah mengganggu
metabolisme jika menumpuk (menimbulkan penyakit diabetes, kolesterol,
dll)," ujar Luciana menerangkan.
Kalau yang hilang atau turun massa otot, justru akan lebih susah menurunkan berat badan, karena metabolisme tubuh
(basal metabolism rate) akan makin kecil. "Kalau metabolisme tubuh
menurun, artinya kalori yang dibutuhkan juga menurun. Sehingga dengan asupan
kalori yang rendah, kalori sudah mencukupi atau malah berlebih dari yang
dibutuhkan. Akibatnya berat badan tidak turun lagi. Demikian yang terjadi jika
otot yang mengecil, bukan lemaknya yang hilang," jelas Luciana. Jumlah massa otot berkurang bisa
karena asupan kalori yang terlalu rendah, suplai protein tidak cukup, atau
aktivitas fisik yang rendah. Berbeda jika yang turun adalah massa
lemak, sementara massa otot membesar. "Kalau ini yang terjadi, BB akan
mudah untuk terus turun."
(Nova)
Sumber: Kompas.Com